Friday, May 16, 2014

Pesona Emas di Geumpang PIDIE

Suparta/ACEHKITA.COM
KECAMATAN di pedalaman Pidie ini mendadak ramai, riuh. Lima tahun lalu, kecamatan yang terletak di selatan kabupaten keurupuk mulieng ini masih sepi. Lazimnya daerah pedalaman, kawasan ini sepi. Perekonomian warga pun hanya mengandalkan sektor perkebunan dan pertanian.
 Namun, dalam lima tahun terakhir sektor pertambangan menjadi primadona baru bagi warga Geumpang. Sejak ditemukan kandungan emas, warga ramai-ramai “alih” profesi: mereka menjadi penambang tradisional.
Suparta/ACEHKITA.COM
Butiran emas yang dihasilkan perut bumi Geumpang tak hanya menyilaukan mata penduduknya. Para pendatang, juga datang silih berganti ke sini. Ada dari pulau seberang, seperti Jawa dan Sulawesi, ada pula dariMedanSumatera Utara. Bersama warga lokal, mereka mencari si kemilau kuning yang tersembunyi di balik kerasnya batu gunung.
Suparta/ACEHKITA.COM
Meski masih dikelola secara tradisional, emas yang mereka hasilkan tak bisa dipandang sebelah mata. Dalam lima tahun terakhir, diperkirakan ratusan kilogram emas sudah diangkut dari perut bumi.
4.Mengangkut MaterialGeumpang kemudian berubah lakon menjadi tempat orang kaya mendadak. Sebab, setelah mengeruk bumi selama 24 jam, mereka mendulang sekilogram emas. Bayangkan, berapa rupiah yang berhasil mereka raih dari keuletan mereka menggali terowongan, memahat karang, menantang maut.
5.Memecah Batu materialNamun, pertambangan emas Geumpang tak cuma memunculkan kisah orang kaya baru. Ada pula kisah sedih dan kebangkrutan. Ada penambang yang terpaksa menjual pelbagai hartanya untuk memodali usaha penambangan itu. Namun, hasilnya tak seimbang.
Suparta/ACEHKITA.COM
Para pemuda Geumpang ikut kecipratan pertambangan ini. Mereka tak lagi suka menghabiskan hari dengan nongkrong di warung kopi seharian suntuk. Berbaur dengan pendatang, mereka mengeksploitasi perut Geumpang untuk mencari bongkahan emas. Geliat ekonomi Geumpang kemudian bergairah, tak lagi lesu.
Suparta/ACEHKITA.COM
Suparta/ACEHKITA.COM
Mereka juga tak lagi bisa dipandang sebelah mata, dianggap sebagai “Apa Geumpang” yang kolot ketika sesekali turun ke pusat perdagangan Pidie di Kota Beureunuen. Kini, mereka dianggap sebagai toke emas yang koceknya dipenuhi rupiah. Begitulah emas mengubah pandangan orang terhadap Geumpang, daerah dingin di pedalaman Pidie.

No comments:

Post a Comment